Makna
di Balik Tradisi Makanan selama Imlek
“Gong Xi Fat Cai! Gong Xi! Gong Xi!”
Kalimat itulah yang biasa kita
dengar ketika hari raya Imlek datang. Gong Xi Fat Cai sendiri memiliki makna
yang artinya “selamat dan semoga sejahtera.” Imlek sendiri dirayakan oleh
sahabat-sahabat kita yang beragama Konghuchu atau etnik Tionghoa. Begitu banyak
tradisi sepanjang hari raya Imlek. Dari mengucapkan “Gong Xi Fat Cai”, amplop
merah, dekorasi lampion merah, hingga makan malam bersama yang diadakan di
rumah-rumah.
Untuk menyambut hari raya Imlek, teman-teman kita yang
merayakan Imlek sudah menyiapkan berbagai persiapan yang dilakukan di dalam
keluarga, salah satunya makan malam bersama. Hal tersebut memiliki tujuan untuk
memperkuat tali kekeluargaan. Makan malam bersama ini sudah menjadi tradisi
yang spiritual dan melembaga dalam keluarga. Ada berbagai macam makanan yang
disajikan selama Imlek, salah satunya adalah buah jeruk mandarin yang menjadi
tradisi sebagai penghias dan buah penanda Imlek. Selain buah jeruk mandarin,
ada juga baso, bihun goreng, jeruk mandarin, teh, siomay, dan lain-lain. Selain
sang tuan rumah yang menyajikan makanan untuk menghidangkan makanan, tetapi
tamu-tamu keluarga yang datang juga membawa makanan.
Ini adalah makan malam bersama yang
saya dapat dari sahabat saya, Elizabeth Elvienna atau yang biasa dipanggil
Vienna. “Makan malam bersama ini emang udah kegiatan keluarga aku tiap tahunnya
dan emang seru banget bisa kumpul keluarga rame-rame.” Ketika ditanya makan
malam bersama ketika Imlek dari jam berapa sampai jam berapa, Vienna
mengatakan, “Bisa sampe pagi! Sehabis makan malam bersama, kita doa bersama,
habis itu nonton TV atau mungkin main kartu dan games lainnya! Seru banget
pokoknya.” Vienna juga menjelaskan bahwa banyak keluarganya yang diluar kota
dan datang ke rumahnya untuk makan malam bersama dan berkumpul bersama keluarga
besar. “Banyak keluarga aku yang ada di luar kota, ada yang di Semarang,
Surabaya, ada juga yang di luar negri dan datang ke rumah aku buat ngerayain
Imlek bareng.” Vienna dan keluarga tampak bersenang-senang ketika saya datangi
ke kediamannya di Depok.
Gambar diatas merupakan makan malam
bersama yang diadakan oleh rekan saya, Evelyn Julia atau yang biasa dipanggil
EJ ini. Evelyn menganggap bahwa perayaan makan malam bersama ini sangat
mengikatkan tali kekeluargaan karena keluarga-keluarganya yang berada di luar
kota datang untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Evelyn mengatakan
bahwa keluarga besarnya datang ke rumahnya dan ia sangat senang. “Aku seneng
banget keluarga besar aku dateng semua. Kalo tahun lalu itu aku yang dateng ke rumah
tante aku. Dan buat tahun ini, keluarga aku deh yang open house. Ganti-gantian gitu dan emang seru banget.” “Biasanya
kalo hari pertama Imlek itu, aku dan keluarga besar makan malam bersama, trus
ibadah dan doa, sehabis itu ngobrol-ngobrol, kadang juga main kartu. Lalu,
besoknya aku keliling ke rumah-rumah keluarga aku buat minta angpao hahahaha,”
ujar Evelyn sambil tertawa ketika ditanya mengenai kegiatan sepanjang Imlek.
Evelyn juga menjelaskan ada makanan yang sebenarnya menjadi tradisi dalam setiap
perayaan Imlek dan keluarganya pun juga menyajikan makanan tersebut untuk
keluarga besarnya. Makanan tersebut dinamakan Yu Sheng. Keluarga Evelyn
menyajikan Yu Sheng sewaktu Imlek karena memang sudah tradisi.
Yu Sheng itu sendiri berisi ikan
mentah dan kebanyakan memang salmon, sayur-sayuran, saus dan rempah-rempah.
Tradisinya adalah sekeluarga mengaduknya bersama-sama menggunakan sumpit. Makna
dari makanan itu sendiri adalah prosperity toss atau bisa dibilang pelemparan
kemakmuran. Makanan ini mengandung makna agar sekeluarga akan mengalami
kemakmuran sepanjang hidupnya.
Pada dasarnya, makanan-makanan itu
sendiri pun diciptakan oleh manusia. Dan manusia sendiri pun diciptakan oleh
Tuhan. Tentunya kita harus mempercayai Tuhan yang sudah menciptakan kita. Tapi,
tidak ada salahnya juga kita menghormati tradisi yang sudah ada sejak dulu.
Editor: Venny Melani 1305001666
Tidak ada komentar:
Posting Komentar